Perbedaan Softskill dan Hardskill yang Dimiliki Karyawan

 

©maxpixel

Ada dua jenis kompetensi yang harus dimiliki seseorang untuk menunjang karier mereka yaitu soft skill dan hard skill. Lantas, apa perbedaan softskill dan hardskill, serta seperti apa contoh soft skill dan hard skill tersebut? Simak jawaban selengkapnya melalui artikel Sodexo berikut ini.

Perbedaan Soft Skill dan Hard Skill dalam CV

Pengetahuan mengenai soft skill dan hard skill ini tidak hanya diketahui oleh karyawan saja. Lulusan baru pun harus memahami perbedaan dua jenis kompetensi ini saat membuat Curriculum Vitae (CV). Kompetensi tersebut merupakan salah satu cara recruiter dalam menilai kandidat saat melihat CV mereka.

Lantas, apa perbedaan hard skill dan soft skill yang harus dipahami saat membuat CV? Baca uraian di bawah ini.

1.   Hardskill

Hard skill atau skill teknis merupakan serangkaian kompetensi yang relevan dengan bidang pekerjaan atau tingkat manajemen. Bidang pekerjaan tertentu membutuhkan hard skill yang spesifik dan belum tentu memenuhi bidang kerja lainnya. Hard skill didapatkan dari pengalaman studi, pelatihan (training), atau pekerjaan itu sendiri.

Contoh hard skill biasanya berkaitan dengan bidang pekerjaan atau industri yang ditekuni. Seorang akuntan, misalnya, harus menguasai Microsoft Excel atau admin media sosial yang memahami cara kerja media sosial yang digunakan.

Hard skill bisa dibuktikan lewat ujian sertifikasi yang dijalani. Contohnya, ujian sertifikasi software pengolah foto untuk desainer. Ujian sertifikasi ini menuntut seseorang memahami dasar-dasar skill tersebut agar berhasil.

Baca Juga: Bagaimana Memajukan Kesejahteraan Umum Masyarakat?

2.   Softskill

Berbeda dari hard skill, soft skill merupakan kompetensi yang ditunjukkan lewat karakteristik atau kepribadian karyawan. Apa pun tingkat hard skill yang dimiliki, soft skill harus ada dalam diri karyawan agar berhasil saat bekerja. Soft skill bukan sekadar bawaan lahir, melainkan dibangun pula lewat pengalaman seseorang saat bekerja atau kuliah.

Contoh sederhana dari soft skill adalah seorang manajer yang harus memiliki sikap kepemimpinan atau leadership. Softskill yang dimiliki belum tentu sama antara bidang pekerjaan satu dan lainnya. Misalnya, salesperson harus memiliki kemampuan networking dan komunikasi yang kuat. Soft skill tersebut belum tentu relevan untuk posisi legal yang mengutamakan kemampuan berpikir kritis.

Kendati demikian, soft skill sama pentingnya dengan hard skill. Soft skill diperlukan untuk menciptakan kesan positif di lingkungan kerja. Ada pula recruiter yang memilih kandidat dengan soft skill yang cukup tinggi, meski hard skill-nya rendah. Soft skill membutuhkan waktu yang lama untuk dibentuk, sedangkan hard skill lebih mudah dibentuk jika diajarkan.

Baca Juga: Makanan Khas Natal Dari Seluruh Penjuru Dunia

Cara Menonjolkan Hard Skill dan Soft Skill saat Interview

Hard skill dan soft skill sebaiknya dituliskan pula dalam CV agar bisa dinilai recruiter. Anda bisa menulisnya pada kolom ‘Skill’ yang tersedia. Kolom ini wajib ada apabila Anda hendak melamar posisi yang membutuhkan kompetensi tertentu. Saat mengisinya, pilih skill yang dimiliki tetapi relevan dengan kompetensi yang diminta dalam iklan lowongan kerja.

Tahap interview kerja menjadi ajang untuk membuktikan kompetensi yang dimiliki kepada recruiter. Kuncinya adalah: tunjukkan softskill lewat perilaku dan jelaskan mengenai hard skill lewat jawaban pertanyaan interview.

Anda dapat menunjukkan soft skill hanya lewat cara sederhana. Misalnya, datang tepat waktu, menatap mata recruiter ketika menjawab pertanyaan, menjawab pertanyaan secara jujur, dan bertanya lebih lanjut mengenai pekerjaan yang dijelaskan.

Hard skill bisa ditunjukkan lewat portofolio yang telah disiapkan untuk melamar pekerjaan bidang tertentu. Saat wawancara, berikan jawaban yang berkaitan dengan bidang pekerjaan yang dilamar sebagai tanda Anda menguasai kompetensi tersebut. Jika recruiter memberikan tes kompetensi, kerjakan secara efisien sebagai bukti bahwa Anda mampu menguasainya.

Baca Juga: 3 Elemen Penting dalam Penilaian Kinerja Karyawan

Langkah paling efektif adalah menceritakan pengalaman terkait kedua kompetensi tersebut, tentunya harus sesuai job requirements pula. Gunakan metode STAR, yang terdiri dari:

  • Situation: ceritakan situasi atau kondisi yang membutuhkan kompetensi tersebut.
  • Task: jelaskan tugas yang dibutuhkan untuk menyelesaikan situasinya.
  • Action: deskripsikan apa yang Anda kerjakan untuk menuntaskan tugas tersebut.
  • Result: akhiri dengan hasil yang didapatkan setelah menyelesaikan tugas.

Baik Hard Skill dan Soft Skill, Keduanya Merupakan Hal yang Sangat Penting

Mungkin saat ini masih banyak orang yang berpikir bahwa hard skill jauh lebih penting untuk dimiliki, daripada soft skill. Karena memang hard skill dapat membantu kita untuk bekerja dengan lebih baik.

Namun Anda tidak bisa menganggap bahwa hard skill merupakan satu-satunya jenis kompetensi yang penting. Faktanya, soft skill juga merupakan jenis kompetensi yang penting untuk dimiliki.

Menurut Charles Riborg dalam tulisannya yang berjudul A Study of Engineering Education, mengatakan bahwa, "85% kesuksesan dalam pekerjaan didukung oleh soft skill, dan 15%-nya didukung oleh hard skill".

Kesimpulannya, perbedaan soft skill dan hard skill terletak pada jenis kompetensinya. Sebagai recruiter, Anda bisa memberikan Sodexo ePass sebagai reward untuk karyawan dengan kompetensi tertinggi. Sodexo ePass dapat digunakan untuk berbelanja di lebih dari 440 merchants dan 25.000 outlets yang tersebar di seluruh Indonesia, sehingga Anda tidak perlu pusing memikirkan kebutuhan atau keinginan karyawan. Hubungi kami segera untuk melakukan pembelian voucher Sodexo.

Rekomendasi Solusi Kami

Waktu operasional: Senin - Jumat (hari kerja),
pukul 08.30 - 17.30 WIB

0815 1954 0325


Kirim email

Waktu operasional: Senin - Jumat (hari kerja),
pukul 08.30 - 17.30 WIB

021 5059 5016


Kirim email