Bukan Generasi Yang Menciptakan Perbedaan di Tempat Kerja, Tetapi Stereotipe!

Media populer sering membahas mengenai perbedaan antara empat generasi (sebentar lagi akan menjadi lima) yang saat ini bekerja berdampingan di tempat kerja. Untuk membantu kita menentukan apakah ada kebenaran di setiap klaim tersebut, dua orang ahli di bidangnya yaitu Karine Lienhard, Vice President Marketing at Sodexo Benefits and Rewards Services, yang akan memberikan wawasan dari dalam tentang penelitian terbaru dari Sodexo, dan Peter Cappeli, ahli generasi terkemuka, sekaligus Director of Wharton School’s center for human resource juga akan memberikan pendapatnya mengenai topik ini. Dimanakah letak kesamaannya? Kita sering mendengar kalimat ini: milenial adalah generasi manja yang banyak menuntut; Gen X memiliki pemikiran skeptis dan negatif; Baby Boomers berprinsip hidup adalah untuk bekerja dan kaum tradisionalis tidak mengerti teknologi. Walau sepertinya mudah untuk menerima generalisasi ini namun jika saja kita meluangkan waktu untuk melihat lebih dalam, sebetulnya banyak kesamaan yang dimiliki keempat generasi ini, terutama dalam ekspektasi kualitas hidup yang diharapkan dari tempat kerja. Sodexo Benefits and Rewards Services mengadakan penelitian[1] di lima negara untuk membandingkan perilaku di tempat kerja antara generasi millenials dengan non-millenials. Hasil penelitian menemukan bahwa kedua kelompok ternyata memilih enam prioritas terpenting yang persis sama, yaitu rasa aman akan masa depan, kesehatan dan keluarga, keseimbangan yang baik antara kerja dengan waktu untuk diri sendiri, apresiasi dalam bentuk finansial atas kontribusi individu, pengembangan karir, mendapat feedback yang rutin atas kinerja, dan pengembangan diri baik di dalam maupun luar tempat kerja. “Hal yang luar biasa”, kata Lienhard. “Pada saat penelitian ini dilakukan, kami berpikir akan menemukan perbedaan yang mendalam antara kebutuhan dan ekspektasi karyawan dari berbagai negara dan generasi. Pada akhirnya kami menemukan bahwa hal tersebut tidak benar. Banyak kemiripan yang sangat kuat antara negara. Kebutuhan karyawan di India ternyata tidak terlalu berbeda dengan mereka yang bekerja di Polandia atau Amerika Serikat”. Penelitian dari University of North Carolina memiliki kesimpulan[2] yang sama bahwa baik generasi Millennials, Gen X dan Baby Boomers, ketiganya mencari keseimbangan antara kerja dengan kehidupan pribadi, peluang untuk bekerja di proyek yang menantang, kesempatan untuk maju secara profesional, menerima perlakuan yang adil di tempat kerja dan kompensasi yang kompetitif. Hal yang sama juga dikemukakan oleh survei yang diadakan di tahun 2015 oleh IBM Institute for Business Value. Survei tersebut menemukan perbedaan yang sangat kecil antar generasi. Semua generasi tersebut memiliki faktor motivasi dan pendapat yang sama mengenai tempat kerja.[3] Mendobrak stereotypes Menurut para ahli, nuansa yang kita rasakan di tempat kerja, timbul lebih karena perbedaan ekspektasi individu daripada ekpektasi generasi tersebut secara umum. Para ahli mengemukakan lebih lanjut bahwa perbedaan ini timbul melalui pembentukan karakter yang muncul dari tahap yang dilalui seseorang dalam hidupnya bukan semata pada tahun dimana dia dilahirkan.[4] “Perbedaan antar generasi menyiratkan tentang karakteristik anggota sebuah kelompok yang melekat selama hidup mereka. Namun banyak bukti yang menunjukan bahwa perbedaan yang muncul di tempat kerja bukan disebabkan karena perbedaan generasi”, demikian diterangkan oleh Capelli. Pengertian akan hal ini lah (bukan tentang usia) yang harus direfleksikan perusahaan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dapat memotivasi karyawan secara individu di tempat kerja. “Pada tahap awal karir mereka, karyawan biasanya menginginkan hal seperti kesempatan untuk belajar dan berkembang. Di bagian pertengahan, biasanya karena sudah berkeluarga, karyawan membutuhkan stabilitas secara finansial. Lalu semakin senior kebutuhan mereka berubah lagi, seringkali lebih mencari hal yang dapat memperkaya mereka sebagai pribadi”, tambah Capelli. Setiap orang di dunia kerja saat ini, dari segala generasi maupun budaya, nampaknya disatukan oleh satu aspek yang sama, yaitu kebutuhan untuk mencari keseimbangan antara kerja dengan kehidupan pribadi. Karena banyaknya orang yang menganggap penting hal ini, Sodexo sering menggunakan tema yang sama dalam penelitian yang dilakukan. Menurut Lienhard, “ada efek samar yang mematahkan batasan antara pekerjaan dengan waktu pribadi (free time) karena kita semua saat ini memiliki koneksi yang dapat menghubungkan setiap orang dengan mudahnya. Sehingga untuk mendapatkan kompensasi hal ini, karyawan kini mencari jalan keluar agar bisa mengatur keseimbangan waktu mereka lebih baik. Perusahaan juga harus menyadari hal ini sewaktu mendesain strategi dalam memberikan penghargaan atas kinerja karyawan (recognition and rewards strategies)”. Personalisasi bukan standarisasi Tidak terpaku pada stereotypes adalah cara agar perusahaan bisa sukses bekerjasama dengan karyawan dari berbagai generasi. Perusahaan harus berusaha untuk mengenal karyawan, mengerti harapan kualitas hidup yang mereka inginkan, serta mencari tahu hal apa yang memotivasi mereka. Setelah mendapatkan informasi tersebut, perusahaan kemudian menciptakan program yang di kemas secara khusus sesuai kebutuhan, bukannya menawarkan peraturan yang telah di standarisasi dan berlaku umum. “Kesimpulan penting yang didapatkan dari survei yang kami adakan adalah karyawan ingin dilihat oleh perusahaan sebagai pribadi yang memiliki minat dan hobi, bukan hanya seseorang yang bekerja dari jam 9 pagi hingga 5 sore”, kata Lienhard. Sodexo menemukan cara untuk menjawab hal ini melalui berbagai program penghargaan yang terdapat di employee benefits. Program penghargaan didesain berdasarkan minat, prioritas serta tantangan yang dihadapi. Karyawan diperbolehkan untuk memilih bentuk penghargaan yang mereka inginkan seperti program yang berhubungan dengan kebudayaan, kesehatan atau hal lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Kesempatan dan fleksibilitas yang ditawarkan tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan antar generasi di tempat kerja, namun memberikan kebebasan bagi karyawan untuk tumbuh dan berkembang. Keberagaman antar generasi yang berlimpah di tempat kerja saat ini, mengharuskan perusahaan untuk menginvestasikan waktu dengan sedikit lari ke sana kemari agar mereka mengerti dengan jelas hal-hal apa saja yang di anggap penting oleh karyawan. “Mengetahui ditahap mana karyawan saat ini berada baik dari segi aspirasi karir maupun kehidupan pribadi, dapat menciptakan tenaga kerja antar generasi yang bahagia dan merasa dihargai di tempat kerja”, demikian dijelaskan oleh Lienhard. Cappelli menambahkan, “Semua orang setuju bahwa point terpenting dari keseluruhan topik ini adalah bahkan bila ada perbedaan nilai yang timbul antara kelompok usia tertentu, hal ini tidak relevan bagi perusahaan. Mengapa? Perbedaan yang terlihat hanyalah bagian kecil dari jauh lebih banyak lagi variasi yang ada. Jadi yang mana yang harusnya dicemaskan perusahaan? Faktanya adalah kita terlalu terobsesi untuk mengetahui perbedaan yang sebenarnya tidak ada di minat dan kebutuhan kaum muda namun mengacuhkan bagian terbesar dan akan terus bertambah, yaitu tenaga kerja yang lebih senior”.[5]  
Sumber =
[1] The Sodexo study interviewed more than 4,000 individuals across the US, India, Brazil, France and Poland in 2016. [2] https://cdn2.hubspot.net/hubfs/200141/Resource_PDFs/Heart_of_Engagement_Ebook.pdf [3] http://theirf.org/research/generations-in-the-workforce-marketplacepreferences-in-rewards-recognition-incentives/1427/ [4] http://www.emeraldinsight.com/doi/abs/10.1108/02683940810904376 [5] http://www.hreonline.com/HRE/view/story.jhtml?id=533325364

Layanan Pelanggan

Jam operasional: Senin - Jumat, 08.30 - 17.30 WIB

(021) 789 1600

Kirim Email

Kirim email kepada kami dengan klik di sini untuk pertanyaan lainnya

Browser Anda sudah kadaluarsa!

Perbarui browser untuk melihat situs web ini dengan benar. Perbaharui browser saya sekarang

×